Back to Blog

Jenis-Jenis Psikotes Kerja: Tes Koran, Kraepelin, Deret Angka, Wartegg, dan Cara Latihannya

Published June 17, 2026 · Updated June 17, 2026 · 9 min read

Kalau kamu mencari psikotes kerja apa saja yang biasanya muncul saat melamar kerja di Indonesia, jawaban singkatnya: tes yang sering muncul adalah tes koran / Pauli / Kraepelin, deret angka, deret gambar, sinonim antonim, analogi verbal, logika aritmatika, tes spasial, Wartegg, tes menggambar orang atau pohon, dan tes kepribadian seperti DISC, EPPS, atau PAPI.

Tidak semua perusahaan memakai jenis tes yang sama. Ada seleksi yang hanya memakai tes online singkat, ada yang memakai beberapa sesi, dan ada juga yang menggabungkan psikotes dengan wawancara HR atau user. Artikel ini merangkum fungsi tiap tes, contoh soalnya, dan cara latihan yang masuk akal tanpa mengandalkan bocoran jawaban.

Jika kamu ingin langsung mulai dari tes hitung cepat, gunakan Tes Koran Online untuk latihan di browser atau buat lembar Tes Koran PDF untuk dicetak.

Ringkasan visual jenis psikotes kerja: tes koran, deret angka, verbal, spasial, Wartegg, dan kepribadian

Psikotes Kerja Apa Saja?

Secara umum, jenis psikotes kerja bisa dikelompokkan seperti ini:

  • Tes kecepatan dan ketelitian: tes koran, tes Pauli, tes Kraepelin.
  • Tes angka dan logika: deret angka, logika aritmatika, soal cerita matematika.
  • Tes verbal: sinonim, antonim, analogi kata, pengelompokan kata.
  • Tes gambar dan spasial: deret gambar, rotasi bentuk, kubus, pola visual.
  • Tes menggambar: Wartegg, menggambar orang, menggambar pohon.
  • Tes kepribadian dan gaya kerja: DISC, EPPS, PAPI, atau kuesioner sejenis.

Jika kamu baru mulai belajar, pahami dulu kelompok besarnya. Setelah itu baru latihan per jenis soal, karena cara mengerjakan tes koran berbeda dengan deret angka, Wartegg, atau kuesioner kepribadian.

1. Tes Koran, Tes Pauli, dan Tes Kraepelin

Tes koran adalah sebutan populer untuk tes hitung cepat dengan deretan angka yang tersusun memanjang. Di Indonesia, istilah ini sering dikaitkan dengan tes Pauli dan tes Kraepelin.

Tugas dasarnya sederhana: jumlahkan dua angka yang berdekatan, lalu tulis digit terakhir dari hasilnya.

Contoh:

7 + 6 = 13 -> jawab 3
8 + 5 = 13 -> jawab 3
4 + 2 = 6  -> jawab 6
9 + 8 = 17 -> jawab 7

Yang dinilai bukan sekadar bisa menjumlahkan. Tes ini biasanya dipakai untuk melihat:

  • Kecepatan mengerjakan tugas sederhana.
  • Ketelitian saat bekerja repetitif.
  • Konsistensi ritme dari awal sampai akhir.
  • Ketahanan fokus ketika mulai lelah.

Dalam format latihan di situs ini, mode Pauli dikerjakan dari atas ke bawah, sedangkan mode Kraepelin dikerjakan dari bawah ke atas. Namun pada tes resmi, selalu ikuti instruksi pengawas karena format, durasi, dan arah pengerjaan bisa berbeda antar penyelenggara.

Diagram arah latihan Tes Pauli dari atas ke bawah dan Tes Kraepelin dari bawah ke atas

Untuk memahami dasar tes ini, baca juga panduan lengkap tes koran dan tes Pauli. Untuk latihan langsung, gunakan simulasi tes koran online atau generator Tes Koran PDF.

2. Tes Deret Angka

Tes deret angka menguji kemampuan membaca pola bilangan. Kamu diberi rangkaian angka, lalu diminta menentukan angka berikutnya.

Contoh mudah:

2, 4, 6, 8, ?
Jawaban: 10
Pola: tambah 2

Contoh lain:

3, 6, 12, 24, ?
Jawaban: 48
Pola: dikali 2

Contoh yang sedikit lebih tricky:

2, 5, 10, 17, 26, ?
Jawaban: 37
Pola: tambah 3, tambah 5, tambah 7, tambah 9, lalu tambah 11

Diagram pola deret angka 2, 5, 10, 17, 26, 37 dengan selisih angka ganjil berurutan

Pola yang sering muncul dalam deret angka:

  • Tambah atau kurang angka tetap.
  • Kali atau bagi angka tetap.
  • Selisih yang berubah teratur.
  • Pola selang-seling antara dua deret.
  • Kuadrat, pangkat, atau angka berurutan.
  • Gabungan dua aturan sekaligus.

Cara latihan yang efektif: jangan langsung menebak. Tulis selisih antar angka, cek apakah selisihnya punya pola, lalu lihat apakah ada pola selang-seling.

3. Tes Deret Gambar

Tes deret gambar mirip dengan deret angka, tetapi polanya memakai bentuk visual. Kamu bisa diminta memilih gambar berikutnya, gambar yang berbeda, atau bentuk yang melengkapi pola.

Contoh pola sederhana:

lingkaran, persegi, lingkaran, persegi, ?
Jawaban: lingkaran
Pola: bentuk bergantian

Pola gambar bisa melibatkan:

  • Bentuk yang berubah urutan.
  • Arah panah atau rotasi.
  • Jumlah garis atau titik.
  • Warna atau arsiran.
  • Posisi objek di kiri, kanan, atas, atau bawah.
  • Gabungan beberapa perubahan sekaligus.

Latihan deret gambar perlu ketelitian visual. Biasanya kamu harus melihat satu perubahan utama dulu, lalu memeriksa apakah ada perubahan kedua yang berjalan bersamaan.

4. Sinonim, Antonim, dan Analogi Verbal

Tes verbal mengukur pemahaman kata dan hubungan makna. Bentuknya bisa berupa sinonim, antonim, analogi, atau pengelompokan kata.

Contoh sinonim:

Akuntabel = ?
Jawaban: dapat dipertanggungjawabkan

Contoh antonim:

Konstan >< ?
Jawaban: berubah

Contoh analogi:

Panas : Dingin = Tinggi : ?
Jawaban: Rendah

Diagram analogi verbal Panas berhubungan dengan Dingin seperti Tinggi berhubungan dengan Rendah

Untuk latihan verbal, jangan hanya menghafal daftar kata. Lebih baik biasakan membaca kalimat dan memahami konteks pemakaian kata. Banyak orang salah bukan karena tidak pernah melihat katanya, tetapi karena tidak memahami hubungan antar kata.

5. Logika Aritmatika dan Soal Cerita

Logika aritmatika adalah tes hitungan yang biasanya dibungkus dalam soal cerita. Fokusnya bukan rumus sulit, tetapi kemampuan memahami informasi dan menghitung dengan rapi.

Contoh:

Sebuah barang seharga Rp80.000 mendapat diskon 25%.
Berapa harga setelah diskon?

25% dari 80.000 = 20.000
80.000 - 20.000 = 60.000
Jawaban: Rp60.000

Jenis soal yang sering muncul:

  • Persentase dan diskon.
  • Perbandingan.
  • Kecepatan, jarak, waktu.
  • Rata-rata.
  • Untung rugi.
  • Pecahan sederhana.
  • Soal kerja bersama.

Tipsnya: baca pertanyaan terakhir dulu, tandai angka penting, lalu tulis langkah hitung secara singkat. Jangan mengandalkan ingatan kalau soalnya panjang.

6. Tes Spasial, Kubus, dan Rotasi Bentuk

Tes spasial mengukur kemampuan membayangkan bentuk. Soalnya bisa berupa rotasi gambar, jaring-jaring kubus, bayangan cermin, atau mencari bentuk yang sama dari sudut berbeda.

Contoh konsep yang sering muncul:

  • Kubus diputar ke kanan atau kiri.
  • Jaring-jaring kubus dilipat.
  • Gambar dicerminkan.
  • Bentuk 2D diputar 90 atau 180 derajat.
  • Potongan gambar harus digabungkan secara mental.

Diagram tes spasial yang menunjukkan bentuk L diputar 90 derajat dengan titik penanda

Untuk latihan, jangan hanya melihat bentuk secara keseluruhan. Cari penanda yang tidak mudah berubah, misalnya posisi titik, sisi gelap, sudut tajam, atau arah garis. Penanda itu membantu kamu mengikuti rotasi.

7. Tes Wartegg

Tes Wartegg adalah tes menggambar. Peserta biasanya diberi beberapa kotak dengan tanda awal kecil, lalu diminta melengkapi setiap kotak menjadi gambar.

Yang biasanya perlu diperhatikan:

  • Ikuti instruksi dengan teliti.
  • Lengkapi semua kotak.
  • Gambar dengan rapi dan cukup jelas.
  • Beri nomor urutan jika diminta.
  • Beri judul gambar jika diminta.
  • Jangan menghabiskan terlalu banyak waktu di satu kotak.

Contoh bentuk awal yang bisa muncul:

Kotak 1: titik kecil
Kotak 2: garis lengkung
Kotak 3: tiga garis menaik
Kotak 4: kotak kecil hitam
Kotak 5: dua garis berpotongan
Kotak 6: garis horizontal dan vertikal terpisah
Kotak 7: titik-titik melengkung
Kotak 8: lengkungan besar

Ilustrasi format latihan Tes Wartegg dengan delapan kotak dan tanda awal sederhana, bukan lembar resmi

Tes Wartegg bukan seperti deret angka yang punya satu jawaban benar. Karena itu, hati-hati dengan konten yang menjanjikan "jawaban pasti lulus". Yang lebih realistis adalah memahami format, berlatih menggambar rapi, dan tidak panik saat melihat kotak kosong.

8. Tes Menggambar Orang atau Pohon

Selain Wartegg, beberapa proses seleksi juga memakai tes menggambar orang, pohon, atau rumah. Formatnya bisa berbeda-beda, tetapi biasanya peserta diminta menggambar lalu menambahkan keterangan tertentu.

Tips umum:

  • Gambar sesuai instruksi.
  • Gunakan ukuran yang wajar.
  • Buat gambar utuh dan rapi.
  • Jangan terlalu lama menghapus.
  • Jika diminta deskripsi, tulis dengan jelas dan konsisten.

Sekali lagi, jangan terlalu percaya pada "trik gambar pasti diterima". Penilaian psikologis tidak sesederhana satu elemen gambar.

9. Tes Kepribadian: DISC, EPPS, PAPI, dan Sejenisnya

Tes kepribadian atau gaya kerja biasanya berbentuk pilihan pernyataan. Tujuannya melihat kecenderungan perilaku, preferensi kerja, motivasi, atau cara seseorang berinteraksi dalam tim.

Contoh bentuk pertanyaan:

Pilih pernyataan yang paling menggambarkan dirimu:
A. Saya nyaman mengambil keputusan cepat.
B. Saya lebih suka menganalisis data sebelum memutuskan.

Cara terbaik mengerjakan tes seperti ini adalah menjawab secara konsisten dan jujur. Kalau kamu mencoba memilih jawaban yang "terlihat paling bagus", hasilnya bisa tidak konsisten dan justru merugikan.

Cara Latihan Psikotes Online

Kalau kamu baru mulai, jangan latihan semua jenis sekaligus. Mulai dari fondasi yang paling sering muncul dan paling mudah diukur.

Urutan latihan yang praktis:

  1. Tes koran / Pauli / Kraepelin: latih kecepatan, akurasi, dan daya tahan dengan timer.
  2. Deret angka: pelajari pola tambah, kali, selisih, dan selang-seling.
  3. Verbal: latihan sinonim, antonim, dan analogi kata.
  4. Logika aritmatika: biasakan soal cerita singkat.
  5. Deret gambar dan spasial: latih membaca rotasi dan perubahan bentuk.
  6. Wartegg dan menggambar: biasakan format agar tidak kaget saat tes.
  7. Kepribadian: pahami bahwa konsistensi lebih penting daripada mencari jawaban yang terdengar ideal.

Untuk tes koran, latihan dengan timer sangat membantu karena kamu bisa melihat apakah performamu stabil atau menurun saat durasi bertambah. Mulailah dari 1 sampai 5 menit, lalu naikkan ke 10, 15, 20, atau 30 menit.

Di situs ini, kamu bisa mulai dari:

Kesalahan Umum Saat Belajar Psikotes

Beberapa kesalahan yang sering terjadi:

  • Hanya menghafal jawaban, bukan memahami pola.
  • Latihan tanpa timer, lalu kaget saat tes asli dibatasi waktu.
  • Terlalu cepat di awal dan kehabisan energi di akhir.
  • Mengejar jumlah jawaban tetapi mengabaikan akurasi.
  • Menganggap semua perusahaan memakai format tes yang sama.
  • Terlalu percaya pada "kunci jawaban psikotes pasti lulus".

Latihan yang lebih sehat adalah memahami format, membangun ritme, mengevaluasi kesalahan, dan menjaga kondisi fisik sebelum tes.

Kesimpulan

Jenis psikotes kerja yang sering muncul di Indonesia biasanya mencakup tes hitung cepat, pola angka, verbal, logika, gambar, spasial, menggambar, dan kepribadian. Tidak semuanya muncul dalam setiap seleksi, tetapi memahami gambaran besarnya membuat kamu lebih siap.

Kalau kamu ingin mulai dari yang paling terukur, latihan tes koran / Pauli / Kraepelin terlebih dahulu. Setelah ritme dan akurasi mulai stabil, lanjutkan ke deret angka, verbal, logika aritmatika, spasial, dan Wartegg.

Yang paling penting: gunakan latihan untuk memahami pola dan membangun kesiapan, bukan untuk mencari bocoran jawaban.